
Hubungan antara Indonesia dan China bukanlah hal baru.
Sejak masa kerajaan-kerajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, bangsa Tionghoa telah menjalin hubungan dagang dan kebudayaan dengan masyarakat Nusantara. Interaksi yang panjang ini tidak hanya menghasilkan pertukaran barang, tetapi juga pertukaran nilai, tradisi, dan cara hidup yang masih terasa hingga saat ini.
Jejak budaya China telah melebur ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia, membentuk kearifan lokal kombinasi budaya yang unik dan menakjubkan. Dari arsitektur hingga kuliner, dari nilai-nilai kehidupan hingga tradisi meriah — semuanya menunjukkan harmoni antara dua peradaban besar Asia.
1. Arsitektur Klenteng: Simbol Spiritual dan Estetika Nusantara
Salah satu jejak paling nyata dari kebudayaan China di Indonesia adalah klenteng — tempat ibadah umat Tridharma yang tersebar dari Sumatera hingga Sulawesi. Klenteng bukan sekadar tempat sembahyang, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan budaya bagi masyarakat sekitar.
- Bentuk arsitektur klenteng memiliki ciri khas tersendiri:
- Atap melengkung menyerupai naga, melambangkan perlindungan dan keberuntungan.
- Warna merah dan emas yang dominan, melambangkan kemakmuran dan kebahagiaan.
- Ornamen naga, burung phoenix, dan patung dewa yang sarat makna filosofis.
Menariknya, beberapa unsur klenteng kini juga diadaptasi dalam desain bangunan tradisional Nusantara — seperti ukiran naga pada gapura, atau warna merah pada pintu utama rumah adat. Ini menunjukkan bagaimana nilai estetika dan spiritual budaya Tionghoa menyatu secara alami dengan kebudayaan lokal Indonesia.
2. Tradisi Imlek dan Cap Go Meh: Meriah, Sakral, dan Bernuansa Nusantara
SAlah satu budaya yang menjadi hal menarik dari kebiasaan China yaitu Perayaan Tahun Baru Imlek yang kini menjadi salah satu perayaan budaya terbesar di Indonesia. Tidak hanya dirayakan oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga dinikmati oleh masyarakat dari berbagai suku dan agama sebagai simbol keberagaman dan persaudaraan.
Festival Cap Go Meh, yang dirayakan 15 hari setelah Imlek, menjadi bukti nyata perpaduan budaya yang indah. Di kota seperti Singkawang (Kalimantan Barat), Cap Go Meh dirayakan dengan parade Tatung — sebuah pertunjukan spiritual yang memadukan tradisi Tionghoa dengan unsur kepercayaan lokal Dayak. Ritual ini bukan hanya atraksi wisata, tetapi juga cerminan toleransi dan akulturasi budaya yang tinggi di Indonesia.
Kini, Imlek bukan sekadar tradisi etnis tertentu, melainkan telah menjadi bagian dari identitas budaya nasional yang menonjolkan semangat kebersamaan, doa untuk rezeki, dan rasa syukur.
3. Kuliner Perpaduan Rasa: Dari Dimsum hingga Lumpia Semarang
Jejak budaya China juga terasa kuat dalam dunia kuliner Nusantara. Masakan Tionghoa berperan penting dalam memperkaya cita rasa makanan Indonesia.
Beberapa contoh kuliner hasil perpaduan budaya antara China dan Indonesia antara lain:
- Lumpia Semarang, adaptasi masakan Tionghoa yang berpadu dengan isian lokal seperti rebung dan udang.
- Bakmi dan bakso, yang berkembang dari tradisi mi Tionghoa dan kini menjadi makanan favorit seluruh lapisan masyarakat.
- Capcay, siomay, dan bakpao, yang sudah menjadi bagian dari kuliner harian Indonesia.
Ciri khas utama kuliner Tionghoa adalah penggunaan teknik masak cepat, tekstur lembut, dan rasa gurih ringan, yang berpadu sempurna dengan rempah-rempah khas Nusantara. Perpaduan ini tidak hanya menggugah selera, tapi juga menjadi simbol nyata dari harmoni dua budaya besar.
4. Nilai-Nilai dan Falsafah Hidup
Selain benda dan tradisi, budaya China juga meninggalkan jejak nilai dan filosofi hidup yang mengakar di masyarakat Indonesia. Nilai-nilai seperti:
- Kerja keras dan ketekunan dalam mencari rezeki,
- Hormat kepada orang tua dan leluhur,
- Menjaga keharmonisan dan keseimbangan hidup, menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Nusantara.
Banyak nilai Tionghoa sejalan dengan falsafah kehidupan Indonesia seperti gotong royong, sopan santun, dan rasa hormat kepada sesama. Inilah yang membuat proses akulturasi budaya berjalan dengan damai tanpa menimbulkan konflik identitas.
5. Seni, Bahasa, dan Kesenian yang Terus Hidup
Seni Tionghoa juga meninggalkan pengaruh dalam kehidupan seni tradisional Indonesia. Misalnya:
- Barongsai dan Liong, kini tampil di berbagai festival budaya Nusantara.
- Kaligrafi Mandarin, mulai diajarkan di sekolah-sekolah budaya dan seni rupa.
- Penggunaan istilah dan kosakata Mandarin yang menyatu dalam bahasa sehari-hari di beberapa daerah seperti Medan, Pontianak, dan Surabaya.
Semua ini menunjukkan bahwa asimilasi budaya China dan Indonesia bukan hanya terjadi di masa lalu, tetapi terus hidup dan berkembang hingga kini.
Kesimpulan
Jejak budaya China di Indonesia bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan warisan hidup yang terus berkembang. Tradisi, kuliner, nilai moral, hingga seni Tionghoa telah bertransformasi menjadi bagian dari identitas budaya Nusantara.
Perpaduan dua budayayaotu budaya Tiongkok dan Indonesia ini melahirkan kearifan lokal kombinasi budaya yang menakjubkan, mencerminkan betapa kayanya Indonesia dalam menerima dan mengolah pengaruh luar tanpa kehilangan jati diri.
Melalui pelestarian budaya, kita tidak hanya menjaga sejarah, tetapi juga merawat semangat toleransi, persaudaraan, dan kebanggaan sebagai bangsa yang beragam.